LAMPUNG — Bencana hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang menerjang kawasan pesisir Provinsi Lampung pada Sabtu (5/9/2026) meninggalkan duka sekaligus kegelisahan mendalam bagi warga. Di tengah tumpukan abu yang menyelimuti pemukiman, imbauan "Tetap Waspada" dari pemerintah justru disambut nada skeptis oleh masyarakat terdampak.
Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat dengan cepat mengeluarkan pernyataan tertulis yang meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah dan wajib menggunakan masker saat berpergian. Namun, langkah ini dinilai belum cukup untuk menjawab krisis di lapangan.
Bagi warga terdampak, tumpukan abu vulkanik tidak hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga mengancam mata pencaharian, sumber air bersih, hingga kesehatan anak-anak. Imbauan prosedural di atas kertas dirasa terlampau dingin jika dibandingkan dengan realitas bencana yang mereka hadapi.
"Kami tahu harus waspada dan pakai masker, tapi yang kami butuhkan sekarang adalah tindakan nyata di lapangan," ujar salah satu warga terdampak dengan nada kecewa. "Ini bencana alam, saatnya pemerintah menunjukkan kepedulian yang sebenarnya lewat distribusi bantuan medis, pembersihan fasilitas publik, dan pasokan air bersih."
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah. Di tengah ancaman abu vulkanik yang masih menyelimuti Lampung, masyarakat menanti langkah konkret yang jauh melebihi sekadar kata-kata penenang. Kesiapan tanggap darurat dan kepedulian riil akan menjadi ujian nyata kepemimpinan dalam melindungi warganya.